kelestarian Tradisi Peraq Api Suku Sasak



Kelahiran seorang bayi adalah salah satu anugerah istemewa bagi seluruh anggota keluarga besar. Ini pertanda bertambahnya jumlah anggota keluarga yang akan mengisi garis- garis silsilah. Hal inilah yang membuat kelahiran bayi mendapat perhatian khusus dari orangtua dan keluarga. Acara- acara syukuran pun mewarnai penyambutankelahiran si bayi. Yang umum dilakukan adalah acara akikah, nyunatan ( bagi bayi perempuan) dan perak api. Ketiga acara tersebut masih dilakukan oleh masyarakat suku sasak sampai sekrang, terutama masyarakat yang tinggal di pedesaan.  Salah satunya adalah peraq api.
Peraq api artinya perapian. Tradisi peraq api ini adalah tradisi memberi nama kepada si bayi. Peraq api ini dilakukan dengan membuat perapian di dekat ibu dan bayi dengan tujuan untuk menghangatkannya. Perapian ini dibuat dalam tungku gerabah atau sejenis baskom dari tanah yang dibakar dengan kayu yang paling sedikit menimbulkan asap agar tidak mengganggu bayi dan ibunya. Perapian tersebut dibuat selama tujuh hari berturut- turut hingga ibu dan bayi sehat kembali. Dihari ke tujuh, pusar bayi akan putus ( petoq puset) . pada saat petoq puset inilah peraq api atau pemberian nama kepada bayi akan dilakukan.
Pada acara perak api ini, keluarga menyediakan jajanan khas sasak untuk dimakan secara bersama- sama dengan masyarakat sekitar. Hal ini berarti kehadiran si bayi sudah diterima dalam  masyarakat.
Setiap daerah di Lombok memiliki cara yang berbeda- beda dalam melakukan tradisi peraq api, tapi tidak jauh beda. Peraq api merupakan tradisi yang diwarisi oleh nenek moyang kita. Maka dari itu, kita harus melestarikannya.

Sumber:

Taufan, I Nanik. Tradisi dalam Siklus Hidup “ Masyarakat Sasak, Samawa dan Mbojo”. 2012. Bima : Museum Kebudayaan Samparaja Bima.

Komentar

Postingan Populer