Kakok Kepeng, Permainan Suku Sasak yang Mengandung Nilai Filosofis
![]() |
| Lomba Kakok Kepeng sumber: http://uun-halimah.blogspot.co.id/2012/07/lomba-gigit-koin.html |
Kakok kepeng adalah permainan yang dilakukan dengan cara
menyelipkan uang logam di buah jeruti, semangka atau pepaya dan digantung
ditempat tertentu. Kemudian masyarakat berlomba- lomba mengambil uang tersebut
dengan mulut sementara tangan mereka di belakang diikat menggunakan tali. [1]
Permainan
kakok kepeng dimainkan oleh masyarakat dari kalangan anak- anak hingga dewasa. Permainan kakok kepeng ini dimainkan oleh
masyarakat hampir diseluruh Indonesia. Namanya pun berbeda- beda. Pada masyarakat
suku Sasak juga memiliki sebutan yang berbeda- beda akan tetapi tidak jauh
beda. Masyarakat lombok tengah menyebutnya dengan nama kakok kepeng.
Bagi
masyarakat suku Sasak, permainan kakok
kepeng menjadi permainan wajib dalam perayaan acara- acara besar di suku Sasak,
seperti perayaan acara 17 Agustus, acara ulang tahun desa, kampung, acara
maulid dll. Permainan kakok kepeng
sangat merakyat dikalangan masyarakat suku Sasak, karena permainan kakok kepeng tidak memandang usia.
Tidak
hanya menjadi permainan wajib, kakok kepeng juga menjadi tradisi suku Sasak yang terkesan
meriah dan menyenangkan dalam memeriahkan suatu acara. Permainan- permainan
masyarakat suku Sasak yang terkesan meriah dan menyenagkan adalah jurakan
( panjat pinang ), tarik tambang dan pantoq
belek ( pukul kaleng ) .
Menurut
tokoh adat suku sasak, permainan kakok kepeng memiliki nilai filosofis yang mendalam bagi masyarakat Sasak,
yaitu agar masyarakat Islam Sasak benar- benar sadar tentang bagaimana
menanamkan sikap optimis dan konsisten dalam berusaha mencari
kebutuhan-kebutuhan material sebagai bekal untuk melangsungkan kehidupan di
dunia. [1]
Hal
ini seolah- olah menjadi peringatan bagi kita semua agar mencari nafkah dengan
sikap optimis, konsisten dan tidak mudah menyerah. Karena untuk mendapatkan
materi yang kita inginkan, harus memiliki sikap konsistendan tidak mudah
menyerah. Tidak mungkin kita akan mendapatkannya jika kita mudah pesimis dan
tidak bersungguh- sungguh.
Sumber:
Mansyur, Zaenudin. Tradisi
Maulid Nabi Masyarakat Sasak. 2005. Mataram: IAIN Mataram.
http://uun-halimah.blogspot.co.id/2012/07/lomba-gigit-koin.html


Komentar
Posting Komentar