Model Pembelajaran Cooperative Learning Tipe Number Head Together
BAB II
1. Penggagas Number Head Together
2.
Konsep
Number Head Together
Teknik
belajar mengajar Kepala Bernomor (Numbered
Heads) dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992). Tehnik ini memberikan
kesempatan pada siswa untuk saling
membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain itu,
tehnik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka.
Tehnik ini bisa digunakan untuk semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan
usia anak didik.
Salah satu metode pembelajaran kooperatif yang
cukup banyak diterapkan di sekolah-sekolah adalah Numbered Head Together atau
disingkat NHT,
Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006). NHT pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk (1993). Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari sruktur kelas tradisional seperti mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk kemudian ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan. Suasana seperti ini menimbulkan kegaduhan dalam kelas, karena para siswa saling berebut dalam mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan peneliti (Tryana, 2008).
Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas (Rahayu, 2006). NHT pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk (1993). Model NHT adalah bagian dari model pembelajaran kooperatif struktural, yang menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan menghendaki agar para siswa bekerja saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara kooperatif. Struktur tersebut dikembangkan sebagai bahan alternatif dari sruktur kelas tradisional seperti mangacungkan tangan terlebih dahulu untuk kemudian ditunjuk oleh guru untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan. Suasana seperti ini menimbulkan kegaduhan dalam kelas, karena para siswa saling berebut dalam mendapatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan peneliti (Tryana, 2008).
Pembelajaran
kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang mengutamakan adanya kerjasama
antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa
dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi
pelajaran yang telah ditentukan. Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah
untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam
proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian
besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi
pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah
Pembelajaran
kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola
interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan
akademik. Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28)
dengan melibatkan para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu
pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.
3.
Tujuan
Number Head Together
Ibrahim
mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif
dengan tipe NHT yaitu :
1. Hasil
belajar akademik stuktural : Bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam
tugas-tugas akademik.
2. Pengakuan
adanya keragaman: Bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang
mempunyai berbagai latar belakang.
3. Pengembangan
keterampilan social : Bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan
yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat
orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan
sebagainya.
4.
Langkah-
langkah Number Head Together
Langkah
1 - Penomoran (Numbering)
Guru
membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang beranggotakan 3 hingga
5 orang dan memberi mereka nomor sehingga tiap siswa dalam tim tersebut
memiliki nomor berbeda. Anggota kelompok harus beragam.
Langkah
2 - Pengajuan Pertanyaan (Questioning)
Guru
mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat bervariasi,
dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum.
Langkah
3 - Berpikir Bersama (Head Together)
Para
siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang
mengetahui jawaban tersebut.
Langkah
4 - Pemberian Jawaban (Answering)
Guru
menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama
mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk seluruh kelas.
Langkah 5- Simpulan
Guru
bersama siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan
dengan materi yang disajikan.
5.
Manfaat
Number Head Together
Ada beberapa
manfaat pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil
belajar rendah yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18),
antara lain adalah :
1.
Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
- Memperbaiki kehadiran
- Penerimaan terhadap individu menjadi
lebih besar
- Perilaku mengganggu menjadi lebih kecil
- Konflik antara pribadi berkurang
- Pemahaman yang lebih mendalam
- Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan
toleransi
- Hasil belajar lebih tinggi
6.
Kelebihan
Number Head Together
NHT mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagaimana dikemukakan
oleh Suwarno (2010) bahwa pembelajaran
model Numbered Head Together
(NHT) memiliki kelebihan dan kelemahan sebagai berikut:
1. Terjadinya interaksi antara siswa melalui diskusi secara bersama
dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
2. Siswa pandai maupun siswa lemah sama-sama memperoleh manfaat
melalui aktifitas belajar kooperatif.
3. Dengan bekerja secara kooperatif ini, kemungkinan konstruksi
pengetahuan akan manjadi lebih besar/kemungkinan untuk siswa dapat sampai pada
kesimpulan yang diharapkan.
4. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan
keterampilan bertanya, berdiskusi, dan mengembangkan bakat kepemimpinan.
7.Kelemahan Number Head Together
1. Yang
pandai akan cenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkan sikap minder dan
pasif dari siswa yang lemah.
2.
Proses diskusi dapat
berjalan lancar jika ada siswa yang sekedar menyalin pekerjaan siswa yang
pandai tanpa memiliki pemahaman yang memadai.
3.
Pengelompokkan siswa
memerlukan pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda serta membutuhkan waktu
khusus
Sumber:
http://spencerkagan.weebly.com
diakses tanggal 5 April 2015
Nurhadi, Yasin,
B. & Senduk, A.G. 2004. Pembelajaran
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/TCL) dan Penerapannya dalam KBK.
Malang: UM PRESS.

Komentar
Posting Komentar